Thursday, 8 October 2015

Softskill: Bahasa Indonesia I "Ragam Bahasa & Laras Bahasa"

                                    RAGAM BAHASA & LARAS BAHASA

      I.          Ragam Bahasa
        Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990).
Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Ø  Jenis-Jenis Ragam Bahasa
Yaitu bisa dibagi 3 berdasarkan media, cara pandang penutur, dan topik pembicaraan.
1.1. Ragam bahasa berdasarkan media
a.       Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan kalimat dan unsur-unsur didalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicara menjadi pendukung didalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak  menunjukan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dengan tulisan,  ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu adapun masing-masing ciri dari keduanya:
Ciri-ciri ragam lisan:
- Memerlukan orang kedua/teman bicara.
- Tergantung kondisi, ruang, dan waktu.
- Tidak harus memperhatikan gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
- Berlangsung cepat

b.      Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulisan makna kalimat yang diungkapkan nya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalomat. Oleh karrena itu, penggunaan ragam baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk katadan struktur kalimat, serta kelengkapaan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ciri-ciri ragam tulis:
-  Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
-  Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
-  Harus memperhatikan unsur gramatikal;
-  Berlangsung lambat;
-  Selalu memakai alat bantu;
-  Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
- Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.

Contohnya: “Saya sudah membaca buku itu”.
Perbedaan antara ragam lisan dan tulisan (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata) :
ü  Tata Bahasa
Ragam Bahasa Lisan
Ragam Bahasa Tulisan
Nia sedang baca surat kabar.
Nia sedang membaca surat kabar.
Ari mau nulis surat.
Ari mau menulis surat.
Tapi kau tak boleh menolak lamaran itu.
Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.

ü  Kosa kata
Ragam Bahasa Lisan
Ragam Bahasa Tulisan
Ariani bilang kalau kita harus belajar.
Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
Kita harus bikin karya tulis.
Kita harus membuat karya tulis.
Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
Rasanya masih telalu muda bagi saya, Pak.

1.2.      Ragam bahasa berdasarkan cara pandang penutur
a.       ragam dialek
b.      ragam terpelajar
c.       ragam resmi
d.      ragam tak resmi.
Contoh:
Ragam dialek              : “Gue udah baca itu buku ”
Ragam terpelajar         : “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam resmi               : “Saya sudah mmbaca buku itu”
Ragam tak resmi         : “Saya sudah baca buku itu”

1.3.      Ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan
a.      ragam bahasa ilmiah
b.      ragam hukum
c.       ragam bisnis
d.      ragam agama
e.       ragam sosial
f.       ragam kedokteran
g.      ragam sastra. 
Ragam hukum : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.
Ragam bisnis   : Setiap pembelian diatas nilai tertentu akan diberikan diskon.
Ragam sastra   : Cerita itu menggunakan flashback.
Ragam kedokteran : Anak itu menderita penyakit kuorsior

    II.            Laras Bahasa
Pada saat digunakan sebagai alat komunikasi, bahasa masuk dalam berbagai laras sesuai dengan fungsi pemakaiannya. Jadi, laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya. Dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah, laras ilmiah populer, laras feature, laras komik, laras sastra, yang masih dapat dibagi atas laras cerpen, laras puisi, laras novel, dan sebagainya.
Setiap laras memiliki cirinya sendiri dan memiliki gaya tersendiri. Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulis dan dalam bentuk standar, semi standar, atau nonstandar.
Ø  Jenis-Jenis Laras Bahasa
Jenis-jenis laras bahasa antara lain sebagai berikut :
1.      Laras ilmiah
2.      Laras sastra (puisi, cerpen, novel, dll.)
3.      Laras jurnalistik (berita, editorial, iklan, dll.)
4.      Laras hukum
5.      Laras kedokteran

Laras bahasa dapat digolongkan kepada dua golongan besar, yaitu laras biasa dan laras khusus.
Laras biasa ialah laras khusus yang digunakan untuk masyarakat umum seperti bidang hiburan, pengetahuan, peneranagn, dan maklumat.
Laras khusus merujuk kepada kegunaan untuk khalayak khusus seperti ahli-ahli atau peminat dalam bidang tertentu dan pelajar-pelajar (rencana, laporan, buku).
Pembeda utama yang membedakan antara laras biasa dengan laras khsus ialah: kosa kata, tata bahasa, dan gaya.

2.1.      Laras Bahasa Biasa
Laras biasa ialah laras khusus yang digunakan untuk masyarakat umum seeprti bidang hiburan, pengetahuan, peneranagn, dan maklumat. Kalimatnya sederhana, ringkas, dan padat.
Contoh : Dilarang menginjak rumput.
2.2.      Laras Bahasa Khusus
a.       Laras Bahasa Perniagaan
Tujuannya untuk mempengaruhi atau membentuk tanggapan tertentu, atau mengubah sikap dan melakukan tindakan. Digunakan dalam iklan, tender, laporan dan sebagainya , didukung pula oleh gambar, lukisan, grafik, ilustrasi dan sebagainya.
b.      Laras Akademik
Meliputi berbagai bidang seperti sains, teknologi, komunikasi, matematik dan sebagainya yang terletak dalam ruang lingkup pendidikan.Dalam penulisan ilmiah, misalnya penulisan thesis, penulis perlu mengikut format tertentu seperti perlu ada catatan bibiliografi (rujukan), nota kaki di bawah muka surat atau nota hujungan di penghujung setiap bab.Menggunaka istilah-istilah yang khusus kepada bidang, dan biasanya perlu dihafal. Contohnya ialah fotosintesis, pecutan, mengawan, pendebungaan dan sebagainya.
c.       Laras Bahasa Media
Berita sebagai wacana memiliki struktur teks yang tersendiri, lain dari struktur teks fiksi, dan lain pula dari struktur teks esai dan karya ilmiah. Wartawan atau penulis koran menggunakan bahasa untuk menjelaskan sesuatu menurut cara yang paling mudah diterima sesuai dengan selera sejumlah pembaca koran.
Tiga fitur penting yang harus ada dalam berita koran yang baik, pertama, bahasa yang digunakan mudah. kedua, gaya tulisan yang jelas dan isi tulisan harus akurat.
d.      Laras Bahasa Satra
Memperlihatkan gaya bahasa yang menarik dan kreatif. Bahasanya dapat dalam bentuk naratif, deskriptif, preskriptif, dramatis dan puitis.
Beberapa ciri bahasa sastra:
·   Kreatif dan imajinatif: mengandung arti
·   Mementingkan penyusunan, pengulangan, pemilihan kata
·   Puitis dan hidup: monolog, dialog, dan sebagainya.
· Menggunakan bahas tersirat: perlambangan, kiasan, perbandingan, peribahasa, metafora, simile, ilusi, ambpersonifikasiiguitas dan sebagainya.
·   Ada penyimpangan tata bahasa atau manipulasi bahasa.

e.       Laras Bahasa Agama

Berisi istilah agama dari bahasa Arab. Struktur ayatnya banyak dipengaruhi struktur bahasa Arab. Disisipkan dengan kutipan dari al-Quran dan hadis.

Softskill: Bahasa Indonesia I "Fungsi Bahasa"

FUNGSI BAHASA

      I.            Bahasa
Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna tertentu pula. Simbol adalah tanda yang diberikan makna tertentu, yaitu  mengacu kepada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indra.
Berarti bahasa mencakup dua bidang, yaitu vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barang atau hal yang diwakilinya,itu. Bunyi itu juga merupakan getaran yang merangsang alat pendengar kita (=yang diserap oleh panca indra kita, sedangkan arti adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan reaksi atau tanggapan dari orang lain).

   II.            Macam Fungsi Bahasa
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern. 
2.1 Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
-         agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita,
-         keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi

2.2 Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita.
Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan sasaran kita.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, pendidikan kita, bahkan sifat kita, dengan kata lain bahasa menjadi cermin diri kita.

2.3 Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Cara berbahasa tertentu berfungsi sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda.
Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

4.4 Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial indapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang mengajarkan kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis adalah cara yang efektif untuk meredakan rasa marah kita dengan menuangkan rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.


Monday, 5 October 2015

Organisasi Kehidupan Sehari-Hari dan Pengalaman Pribadi Berorganisasi

  • Organisasi dalam kehidupan sehari-hari dan pengalam pribadi dalam berorganisasi?
Contoh organisasi yang ada di lingkungan kita dalam kehidupan sehari-hari, antara lain :
- RT yaitu rukun tetangga dengan struktur organisasinya yang terdiri dari Ketua RT, wakil, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi.
- Organisasi perkumpulan Ibu-ibu PKK dikomplek perumahan.
- Organisasi remaja pecinta basket, organisasi remaja pecinta bola.
- OSIS yaitu Organisasi Intra Sekolah, wadah organisasi siswa yang sah di sekolah. Oleh karena itu setiap sekolah wajib membentuk OSIS, yang tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan OSIS di sekolah lain dan tidak menjadi bagian/alat dari organisasi lain yang ada di luar sekolah.
Pengalaman berorganisasi yang pernah saya dapat adalah organisasi mahasiswa yaitu kepengurusan himpunan mahasiswa dikampus saya. Saat itu saya menjabat sebagai anggota divisi seni selama 6 bulan yang kemudian diangkat sebagai ketua divisi seni itu sendiri. Saat berorganisai hal yang paling utama menurut saya yaitu komunikasi, karna dengan komunikasi kita dapat mengenal lebih dekat orang-orang yang berada dilingkup organisasi tersebut terutama dalam divisi yang kita tekuni.
Bagi saya sendiri organisasi mahasiswa memiliki banyak peranan penting dikampus. Seperti yang kita tau bahwa pengalaman mengajarkan banyak perubahan, misalnya yang terjadi dalam kehidupan dikampus, di masyarakat, dan berbangsa dan bernegara yang mengalami perubahan karena peran serta dari mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiwa tersebut.
Organisasi mahasiswa berperan sangat penting sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa pada petinggi-petinggi kampus seperti rektor, dekan, dosen dan sebagainya. Karna tidak selamanya keputusan yang di buat oleh petinggi kampus dapat diterima begitu saja oleh mahasiswa. Maka organisasi disini dijadikan sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi tersebut.
Sekarang saya adalah salah satu anggota dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas saya FIKTI (Fakultas Ilmu Komputer & Teknologi Informasi). BEM disini sebagai media bagi mahasiswa untuk menyampaikan keluhan tentang mahalnya biaya kuliah, minimnya fasilitas kampus yang tidak seimbang dengan kenaikan biaya kuliah dan lain sebagainya. Dalam forum yang formal nanti perwakilan dari BEM ini akan menyampaikan keluhan mahasiswa ini kepada pihak rektorat contohnya. Nah, dari situ pihak rektorat dapat mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang membebani mahasiswa. Maka dari itu pihak rektorat akan melakukan fungsicontrolling-nya. Tidak hanya BEM, organisasi kehamahasiswaan lainnya baik organisasi internal maupun organisasi eksternal kampus, juga bisa langsung menyampaikan aspirasinya, contohnya melakukan aksi damai menuntut kenaikan biaya kuliah. Memang realita yang kita saksikan tidak jarang aksi yang awalnya damai berujung dengan kericuhan karena pihak kampus mungkin tidak merespon aksi mereka. Namun itu hanyalah sebagian kecil dari contoh peran penting organisasi mahasiswa dikampus. Tidak dapat kita pungkiri keberadaan organisasi kemahasiswaan sangatlah penting sebagai fasilitator dan mediator antara mahasiswa dengan petinggi-petinggi kampus.
Organisasi kampus juga berperan dalam pembekalan untuk melanjutkan study ke luar negeri. Karena salah satu syarat yang biasa diminta untuk mendapatkan beasiswa pendidikan keluar negeri adalah dari karya ilmiah dan penelitian yang pernah kita lakukan. Hal ini bisa kita asah dari berorganisasi. Kemudian, jika kita menjadi aktifis kampus jangan hanya berkutat pada rapat dan penyelenggaraan event saja jika ingin menjadi aktivis kampus yang komplit dan prestatif. Kita juga harus aktif dengan kegiatan-kegiatan kompetitif lainnya, seperti lomba menulis, debat, maupun aktivitas sosial kemasyarakatan lainnya yang akan diperimbangkan nantinya untuk pembekalan study ke luar negeri. Karena, sejauh ini jika kita teliti akan terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena kita terlalu disibukkan dengan event dan rapat organisasi dibandingkan dengan pengembangan kemampuan prestatif diri.
Saya masih berada di ruang lingkup sebagai anggota BEM saat ini, masih banyak pembelajaran yang akan saya dapatkan. Yang berhasil saya tangkap untuk saat ini adalah hal-hal diatas yang telah saya ceritakan. Semoga bermanfaat untuk pembaca.

Wednesday, 30 September 2015

Teori Organisasi Umum 2 - Organisasi

Tugas I

·        Pengertian Organisasi?
Pengertian organisasi adalah wadah untuk sekelompuk individu untuk berinteraksi dalam wewenang tertentu. Organisasi yang dibentuk terdiri dari berbagai kelompok yang memiliki kepentingan bersama untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama.
Siapapun memerlukan pengalaman dalam organisasi, ini dikarenakan manusia adalah makhluk social yang pasti akan berinteraksi dengan yang lain. Dengan bekerja sama dengan yang lain maka pekerjaan akan terasa lebih ringan. Selain itu pekerjaan atau tugas akan lebih cepat terselesaikan dibandingkan kita hanya bekerja seorang diri.
·         Sebab dan Alasan timbulnya kelompok?
Dua penyebab utama terbentuknya suatu kelompok, yaitu :
a.  Kedekatan

Kedekatan geografis tempat tinggal
Pengaruh tingkat kedekatan, atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal.
Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan.

Kedekatan geografis daerah asal
Ketika seseorang merantau ke suatu tempat dan bertemu dengan orang yang sama-sama merantau dan berasal dari daerah yang sama, maka orang tersebut merasa ada ikatan batin, meskipun semula belum saling mengenal ketika masih di daerah asal.

b.    Kesamaan
Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga kesamaan di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang lebih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter-karakter personal lain. Kesamaan kesamaan yang dimaksud antara lain :

Kesamaan kepentingan
Dengan adanya dasar utama adalah kesamaan kepentingan maka kelompok sosial ini akan bekerja sama demi mencapai kepentingan yang sama tersebut.

Kesamaan keturunan
Sebuah kelompok sosial yang terbentuk atas dasar persamaan keturunan biasanya orientasinya adalah untuk menyambung tali persaudaraan, sehingga masing-masing anggotanya akan saling berkomitmen untuk tetap aktif dalam kelompok sosial ini untuk menjaga tali persaudaraan agar tidak terputus.

Kesamaan nasib
Dengan kesamaan nasib/ pekerjaan/ profesi, maka akan terbentuk kelompok sosial yang mewadahinya untuk meningkatkan taraf maupun kinerja masing-masing anggotanya.

Contoh : Kelompok pencinta alam, dimana individu-individu yang tergabung dalam kelompok ini adalah mereka suka menjelajahi alam luas yang memiliki jiwa petualang, seperti mendaki gunung, memanjat tebing, memasuki gua, arung jeram, dan sebagainya yang menyangkut dengan alam.

·         Bentuk Organisasi yang Anda ketahui dan berikan contoh?
Organisasi garis/ lini    : Organisasi garis merupakan bentuk organisasi tertua, dan paling sederhana. Organisasi dengan jumlah karyawan sedikit dan pemiliknya merupakan pimpinan tertinggi didalam perusahaan/organisasi yang mempunyai hubungan langsungdengan bawahannya. Di sini setiap bagian-bagian utama langsung berada dibawah seorang pemimipin serta pemberian wewenang dan tanggung jawab bergerak vertical ke bawah dengan pendelegasian yang tegas, melalui jenjang hirarki yang ada.
Contoh : Perbengkelan, Kedai Nasi, Warteg, Rukun tetangga.




Monday, 11 May 2015

Peran Walisongo Dalam Mempengaruhi Budaya Nusantara

Peran Walisongo dalam Menyiarkan Islam Di Nusantara

Adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan trun-temurun dari generasi sau ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat intregrasinya. Para wali songo dalam menyiarkan islam menggunakan tradisi local sebagaimana yang berlaku di masyarakat dari pada menentang/merombaknya.

Melalui tradisi inilah, mereka memasukkan nilai-nilai ajaran agama. Ternyata dengan cara
yang demikian, dalam waktu yang tidak lama agama islam telah terkenal dan di terima oleh masyarakat.

Dampaknya,syariat islam yang di perkenalkan di masyarakat adalah syariat yang sedikit banyak telah di padukan dengan tradisi local yakni tradisi yang berlaku di masyarakat. Untuk itu, para penyiar islam berusaha mewarnai dengan ajaran islam, sehingga betul-betul menjadi tradisi islami.

Sejarah Tentang Walisongo
Walisongo secara sederhana artinya sembilan orang yang telah mencapai tingkat “Wali”, suatu derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa  sanga(mengawal sembilan lubang dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali. Para wali tidak hidup secara bersamaan. Namun satu sama lain memiliki keterkaitan yang sangat erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Ahli-ahli sejarah tampaknya sependapat bahwa penyebaran Islam di Jawa adalah para Walisongo. Mereka tidak hanya berkuasa dalam lapangan keagamaan, tetapi juga dalam hal pemerintahan dan politik. Bahkan, seringkali seorang raja seakan-akan baru sah sebagai raja kalau sudah diakui dan diberkahi oleh Walisongo. Islam telah tersebar di pulau Jawa, paling tidak sejak Malik Ibrahim dan Maulana Ishak yang bergelar Syaikh Awal Al-Islam diutus sebagai juru dakwah oleh Raja Samudera, Sultan Zainal Abidin Bahiyah Syah (1349-1406) ke Gresik. Dalam  percaturan politik, Islam mulai memosisikan diri ketika melemahnya kekuasaan Majapahit yang memberi peluang kepada penguasa Islam di pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah pimpinan Sunan Ampel, Walisongo bersepakat untuk mengangkat Raden Patah sebagai raja pertama kerajaan Islam Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Di samping kekuatan politik Islam yang memberi kontribusi besar terhadap  perkembangannya, Islam juga hidup di masyarakat dapat memberi dorongan kepada penguasa non-muslim untuk memeluknya. Agama Islam di Jawa pada masa kerajaan Islam telah menjadi agama rakyat.Sebelum islam datang ke Indonesia, masyarakat Indonesia telah memiliki system tersendiri. Kepercayaan tersebut telah mengalami beberapa kali peralihan. Pertama, nenek moyang bangsa Indonesia menganut Kepercayaan Animisme dan Dinanisme. Kedua, melalui perkembangan peradaban masyarakat Indonesia muncul kepercayaan baru yakni agama Hindu(Hinduisme) dan Buddha ( Buddhaisme ).

Aninisme dan Dinanisme merupakan dua kepercayaan yang di anut oleh nenek moyang bangsa Indonesia secara turun temurun hingga datangnya agama Hindu dan Buddha. Aninisme  adalah kepercayaan yang menganggap bahwa setiap benda mempunyai roh yang dapat mendatangkan keselamatan terhadap kehidupan manusia. Kepercayaan Aninisme ini mempunyai empat aliran, yaitu: pertama, kepercayaan yang menyembah kepada alam. Kedua, kepercayaan yang menyembah kepada benda-benda. Ketiga, kepercayaan yang menyembah kepada binatang, dan keempat, kepercayaan yang menyembah terhadap roh nenek moyang.

Sementara Dinanisme adalah kepecyaan yang menganggap benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib ( kesaktian ), benda-benda tersebut dalam kondisi tertentu dapat menolong manusia, misalnya tanduk,taring, keris, batu akik, dan sebagainya. Dalam upaya mencari keselamatan dan pertolongan kepada benda-benda tersebut, biasanya di lakukan dengan cara menyajikan ayam, telur, kepala kerbau, dan lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah peradaban masyarakat Indonesia sedikit mengalami perubahan dan kemajuan, masuklah kepercayaan baru, bukan hanya sebagai kepercayaan semata, tetapi juga sebagai agama, yaitu agama Hindu dan Budha.

Agama merupakan agama yang lahir di negeri India sekitar tahun 1500 sebelum Masehi. Agama ini memiliki kitab suci yang di sebut dengan Weda dan mempunyai kepercayaan terhadap tiga Dewa yang di sebut Tri Murti ( Dewa Brahmana sebagai dewa pencipta alam, Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara alam dan Dewa Siwa sebagai dewa perusak alam )
Masyarakat dalam agama hindu dibagi menjadi empat kasta, yaitu :
1.     Kasta Brahmana ( kelompok bangsawan/agamawan )
2.     Kasta Ksatria ( kelompok prajurit/tentara)
3.     Kasta Waisya ( kelompok rakyat jelata )

Agama Budha merupakan agama yang yang juga  lahir di India  setelah agama Hindu, yaitu sekitar tahun 500 sebelum Masehi. Memiliki kitab suci yang bernama tripitaka, yang berarti  himpunan tiga kitab suci agama Buddha. Mengajarkan tentang aturan-aturan hidup, dan penjelasan-penjelasan agama Buddha.

Adapun penjelasan tokoh-tokoh Walisongo adalah sebagai berikut:
1.    Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim)
Syekh Maulana Malik Ibrahim berasal dari Turki, dia adalah seorang ahli tata negara yang ulung. Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa pada tahun 1404 M. Jauh sebelum beliau datang, islam sudah ada walaupun sedikit, ini dibuktikan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun yang nisannya bertuliskan tahun 1082.
Dikalangan rakyat jelata Sunan Gresik atau sering dipanggil Kakek Bantal sangat terkenal terutama di kalangan kasta rendah yang selalu ditindas oleh kasta yang lebih tinggi. Sunan Gresik menjelaskan bahwa dalam Islam kedudukan semua orang adalah sama sederajat hanya orang yang beriman dan bertaqwa tinggi kedudukannya disisi Allah. Dia mendirikan pesantren yang merupakan perguruan islam, tempat mendidik dan menggenbleng para santri sebagai calon mubaligh. Di Gresik, beliau juga memberikan pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat gresik semakin meningkat. Beliau memiliki gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi sawah dan ladang. Syekh Maulana Malik Ibrahim seorang walisongo yang dianggap sebagai ayah dari walisongo. Beliau wafat di gresik pada tahun 882 H atau 1419 M.

2.  Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Raden Rahmat adalah putra Syekh Maulana Malik Ibrahim dari istrinya  bernama Dewi Candrawulan. Beliau memulai aktivitasnya dengan mendirikan  pesantren di Ampel Denta, dekat dengan Surabaya. Di antara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (Sultan pertama Kesultanan Islam Bintoro, Demak), Raden Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri dan dikenal sebagai Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), dan Maulana Ishak. Menurut Babad Diponegoro, Sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan istana Manjapahit, bahkan istrinya pun berasal dari kalangan istana Raden Fatah,  putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, menjadi murid Ampel. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam di pulau Jawa. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak. Disamping itu, Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali lain. Pada awal islamisasi Pulau Jawa, Sunan Ampel menginginkan agar masyarakat menganut keyakinan yang murni. Ia tidak setuju bahwa kebiasaan masyarakat seperti kenduri, selamatan, sesaji dan sebagainya tetap hidup dalam sistem sosio-kultural masyarakat yang telah memeluk agama Islam. Namun wali-wali yang lain berpendapat bahwa untuk sementara semua kebiasaan tersebut harus dibiarkan karena masyarakat sulit meninggalkannya secara serentak. Akhirnya, Sunan Ampel menghargainya. Hal tersebut terlihat dari persetujuannya ketika Sunan Kalijaga dalam usahanya menarik penganut Hindu dan Budha, mengusulkan agar adat istiadat Jawa itulah yang diberi warna Islam. Beliau wafat pada tahun 1478 dimakamkan disebelah masjid Ampel.

3.    Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)
Nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putra Sunan Ampel. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam dan tauhid.Beliau dianggap sebagai  pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Setelah belajar di Pasai, Aceh, Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa Timur, untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya  berdatangan dari berbagai daerah. Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan menyisipkan napas Islam ke dalamnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah SWT. dan tidak menyekutukannya. Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain (ucapan dua kalimat syahadat); gamelan yang mengirinya kini dikenal dengan istilah sekaten, yang berasal dari syahadatain. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang Durma, sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah.
Sunan Bonang wafat di pulau Bawean pada tahun 1525 M.

4.    Sunan Giri (Raden Paku)
Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishak dan ibunya bernama Dewi Sekardadu putra Menak Samboja. Kebesaran Sunan Giri terlihat antara lain sebagai anggota dewan Walisongo. Nama Sunana Giri tidak bisa dilepaskan dari proses  pendirian kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak. Ia adalah wali yang secara aktif ikut merencanakan berdirinya negara itu serta terlibat dalam penyerangan ke Majapahit sebagai penasihat militer. Sunan Giri atau Raden Paku dikenal sangat dermawan, yaitu dengan membagikan barang dagangan kepada rakyat Banjar yang sedang dilanda musibah. Beliau pernah bertafakkur di goa sunyi selama 40 hari 40 malam untuk bermunajat kepada Allah. Usai bertafakkur ia teringat pada pesan ayahnya sewaktu belajar di Pasai untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan yang dibawahi dari negeri Pasai melalui desa Margonoto sampailah Raden Paku di daerah perbatasan yang hawanya sejuk, lalu dia mendirikan pondok pesantren yang dinamakan Pesantren Giri. Tidak berselang lama hanya daam waktu tiga tahun pesantren tersebut terkenaldi seluruh Nusantara. Sunan Giri sangat berjasa dalam penyebaran Islam baik di Jawa atau nusantara baik dilakukannya sendiri waktu muda melalui berdagang tau bersama muridnya. Beliau juga menciptakan tembang-tembang dolanan anak kecil yang  bernafas Islami, seperti jemuran, cublak suweng dan lain-lain.

5.    Sunan Drajat (Raden Qasim)
Sunan Drajat adalah anak bungsu Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati atau yang sering disebut sebagai Nyi Ageng Manila. Beliau lahir pada tahun 1450. Nama lain dari Sunan Drajat yang terkenal adalah Raden Qasim. Di desa Jelak, Raden Qasim mendirikan surau dan pesantren.Banyak orang yang datang untuk  berguru agama Islam kepadanya sehingga Jelak semakin ramai dan berkembang menjadi kampung besar. Oleh karena itu nama Jelak kemudian dirubah menjadi Banjaranyar. Beliau memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikam, dengan cara-cara bijak dan tanpa memaksa. Dalam penyampaiannya beliau menempuh lima cara. Pertama lewat pengajian secara langsung dimasjid atau di anggar.Kedua melalui pendidikan di pesantren.Ketiga memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan masalah. Keempat melalui kesenian tradisional dan yang kelima menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional sepanjang tidak  bertentangan dengan agama islam. Sunan Drajat juga berdakwah dengan menggunakan kesenian Jawa yang pada waktu itu sudah mendarah daging dikalangan masyarakat.Salah satu tembang ciptaan  beliau adalahtembang Mijil.

Sunan Drajat juga terkenal dengan ajaran yang mengatakan paring teken marang kang kalunyon lan wuto, paring pangan marang kang kaliren, paring sandhang marang kang kudanan (memberi tongkat kepada orang buta, memberi makan kepada orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada yang tidak punya pakaian dan memberi payung kepada orang yang kehujanan). Ini memang inti ajaran sosial di dalam Islam yang akan tetap relevan sampai kapanpun. Pada masa akhir Majapahit terjadi krisis sosial, ekonomi, politik.Sunan Drajat menjadi juru bicara yang membela rakyat tertindas.Beliau mengecam tindakan elit  politik yang waktu itu hanya mengejar kekuasaan demi kenikmatan pribadi. Dalam  bidang sastra budaya beliau menciptakan:
1) Berpartisipasi dalam pembangunan masjid Demak
2) Membantu Raden Patah
3) Tembang Pangkur.

6.    Sunan Kalijaga (Raden Sahid)
 Nama aslinya adalah Raden Sahid, beliau putra Raden Sahur putra Temanggung Wilatika Adipati Tuban. Raden Sahid sebenarnya anak muda yang  patuh dan kuat kepada agama dan orang tua, tapi tidak bisa menerima keadaan sekelilingnya yang terjadi banyak ketimpangan, hingga dia mencari makanan dari gudang kadipaten dan dibagikan kpeada rakyatnya. Tapi ketahuan ayahnya, hingga dihukum yaitu tangannya dicampuk 100 kali sampai banyak darahnya dan diusir. Setelah diusir selain mengembara, ia bertemu orang berjubah putih, dia adalah Sunan Bonang. Lalau Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruh menunggui tongkatnya di depan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut. Maka Raden Sahid disebut Sunan Kalijaga. Sunan kalijaga menggunakan kesenian dalam rangka penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah tertarik pada ajaran-ajaran Islam sekalipun, karena pada awalnya mereka tertarik dikarenakan media kesenian itu. Misalnya, Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia itdak  pernah meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disispkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam.

7.    Sunan Kudus (Ja’far Sadiq)
Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Beliau memiliki keahlian khusus dalam bidang agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir serta logika. Karena itulah di antara walisongo hanya ia yang mendapat julukan wali al- ‘ilm (wali yang luas ilmunya), dank arena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara. Ada cerita yang mengatakan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis, Palestina, dan pernah berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban di Palestina. Atas jasanya itu, oleh pemerintah Palestiana ia diberi ijazah wilayah (daerah kekuasaan) di Palestina, namun Sunan Kudus mengharapkan hadiah tersebut dipindahkan ke Pulau Jawa, dan oleh Amir (penguasa setempat) permintaan itu dikabulkan. Sekembalinya ke Jawa ia mendirikan masjid di daerah Loran tahun 1549, masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar (Masjid Menara Kudus) dan daerah sekitanya diganti dengan nama Kudus, diambil dari nama sebuah kota di Palestina, al-Quds. Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, Sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan. Yang paling terkenal adalah Gending  Makumambang dan Mijil.

Cara-cara berdakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut: a. Strategi pendekatan kepada masa dengan jalan 1. Membiarkan adat istiadat lama yang sulit diubah 2. Menghindarkan konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan agama islam 3. Tut Wuri Handayani 4. Bagian adat istiadat yang tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah.  b. Merangkul masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih sapi karena dalam agama Hindu sapi adalah binatang suci dan keramat. c. Merangkul masyarakat Budha Setelah masjid, terus Sunan Kudus mendirikan padasan tempat wudlu denga  pancuran yang berjumlah delapan, diatas pancuran diberi arca kepala Kebo Gumarang diatasnya hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha “ Jalan berlipat delapan atau asta sunghika marga”. d. Selamatan Mitoni Biasanya sebelum acara selamatan diadakan membacakan sejarah Nabi. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di Kudus. Di pintu makan Kanjeng Sunan Kudus terukir kalimat asmaul husna  yang berangka tahun 1296 H atau 1878 M.

8.    Sunan Muria (Raden Umar Said)
Sunan Muria adalah putera pertama Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Nama asli beliau adalah Raden Umar Said, sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Dalam berdakwah, Sunan Muria meniru cara yang telah dilakukan dengan sukses oleh ayahandanya, yaitu menggunakan alat musik Jawa (gamelan). Sasaran yang digarap oleh Sunan Muria adalah masyarakat yang  bertempat tinggal di pedesaan, jauh dari pusat pemerintahan maupun kota. Oleh karena itu, Sunan Muria membangun pesantren di lereng gunung Muria, dan karena itulah gelar Sunan Muria diberikan oleh masyarakat.
Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu menggunakan cara halus, ibarat menganbil ikan tidak sampai keruh airnya. Muria dalam menyebarkan agama Islam. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan dan rakyat jelata. Beliau adalah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah dan beliau pulalah yang menciptakan tembang Sinom dan kinanthi. Beliau banyak mengisi tradisi Jawa dengan nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, ngatus dino dan sebagainya. Lewat tembang-tembang yang diciptakannya, sunan Muria mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran Islam. Karena itulan sunan Muria lebih senang berdakwah  pada rakyat jelata daripada kaum bangsawan. Cara dakwah inilah yang menyebabkan suna Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwak tapa ngeli yaitu menghanyutkan diri dalam masyarakat

9.    Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
 Nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah, beliau lahir di Makkah. Banyak versi yang menceritakan tentang keberadaan Sunan Gunungjati ini, tetapi cerita yang termasyhur adalah menikahnya Sunan Gunungjati dengan seorang puteri Cina bernama Ong Tien, yang kemudian namanya diganti dengan Nyai Ratu Rara Semanding. Sunan Gunung Jati memang mempunyai hubungan baik dengan kaisar Cina. Dalam rangka menjalin hubungan baik tersebut, pada tahun 1479 beliau berkunjung ke Cina dan bertemu dengan kaisar Hong Gie, serta berkenalan dengan sekretaris kerajaan bernama Ma Huan, Jendral Ceng Ho, dan Fei Hsin. Ketiga tokoh itu telah memeluk agama Islam.Disini Sunan Gunungjati membuka praktek pengobatan,dan  banyak masyarakat Cina yang berobat kepadanya.Kesempatan ini digunakan sebaik- baiknya oleh beliau untuk berdakwah. Setelah selesai menuntut ilmu pada tahun 1470 dia berangkat ketanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya. Disana beliau bersama ibunya disambut gembira oleh  pangeran Cakra Buana. Syarifah Mudain minta agar diizinkan tinggal dipasumbangan Gunung Jati dan disana mereka membangun pesantren untuk meneruskan usahanya Syeh Datuk Latif gurunya pangeran Cakra Buana.

Oleh karena itu Syarif Hidayatullah dipanggil sunan gunung Jati. Lalu ia dinikahkan dengan putri Cakra Buana Nyi Pakung Wati kemudian ia diangkat menjadi pangeran Cakra Buana yaitu pada tahun 1479 dengan diangkatnya ia sebagai pangeran dakwah islam dilakukannya melalui diplomasi dengan kerajaan lain. Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah Kerajaan Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan yang  belum menganut agama Islam. Dari Cirebon, ia mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Sunan Gunungjati membangun masjid pada tahun 1480 yang diberi nama Masjid Agung Sang Ciptarasa. Pembangunan masjid ini mendapat bantuan penuh dari Sultan Demak dan Walisongo. Bahkan juga diceritakan bahwa Sunan Kalijogo ikut menyumbangkan sebuah tiang tatal. Masjid ini juga sering dijadikan pusat  pertemuan Walisongo untuk membicarakan masalah-masalah yang dihadapi pada saat itu.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Peran Walisongo dalam Penyebaran dan Perkembangan Islam di Indonesia

Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran Dakwah Islamiyah di Tanah Jawa. Sukses gemilang perjuangan para Wali ini tercatat dengan tinta emas.Dengan didukung penuh oleh kesultanan Demak Bintoro, agama Islam kemudian dianut oleh sebagian besar manyarakat Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan  pegunungan.Islam benar-benar menjadi agama yang mengakar.

Para wali ini mendirikan masjid, baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat mengajarkan agama. Konon, mengajarkan agama di serambi masjid ini, merupakan lembaga pendidikan tertua di Jawa yang sifatnya lebih demokratis. Pada masa awal perkembangan Islam, sistem seperti ini disebut ”gurukula”, yaitu seorang guru menyampaikan ajarannya kepada beberapa murid yang duduk di depannya, sifatnya tidak masal bahkan rahasia seperti yang dilakukan oleh Syekh Siti Jenar. Selain prinsip-prinsip keimanan dalam Islam, ibadah, masalah moral juga diajarkan ilmu-ilmu kanuragan, kekebalan, dan bela diri.

Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila ada salah seorang wali tersebut pergi atau wafat maka akan segera diganti oleh walilainnya. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Kesembilan wali ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam  penyebaran agama Islam di pulau Jawa pada abad ke-15. Adapun peranan walisongo dalam penyebaran agama Islam antara lain:
1. Sebagai pelopor penyebarluasan agama Islam kepada masyarakat yang  belum banyak mengenal ajaran Islam di daerahnya masing-masing.
2. Sebagai para pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa hidupnya.
3. Sebagai orang-orang yang ahli di bidang agama Islam.
4. Sebagai orang yang dekat dengan Allah SWT karena terus-menerus  beribadah kepada-Nya, sehingga memiliki kemampuan yang lebih.
5. Sebagai pemimpin agama Islam di daerah penyebarannya masing-masing, yang mempunyai jumlah pengikut cukup banyak di kalangan masyarakat Islam.
6. Sebagai guru agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada  para muridnya.
7. Sebagai kiai yang menguasai ajaran agama Islam dengan cukup luas.

8. Sebagai tokoh masyarakat Islam yang disegani pada masa hidupnya. Berkat kepeloporan dan perjuangan wali sembilan itulah, maka agama Islam menyebar ke seluruh pulau Jawa bahkan sampai ke seluruh daerah di Nusantara

Friday, 10 April 2015

IBD : "Faktor yang Mempengaruhi Keutuhan NKRI"


Faktor yang Mempengaruhi Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Ditinjau dari sisi : “Pertahanan dan Keamanan

A.     Meningkatkan Bela Negara Masyarakat Perbatasan guna Menjaga Keutuhan NKRI
Perjuangan bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan telah mengorbankan baik jiwa, raga, harta dan tenaga yang tak terhingga, meskipun hanya dengan persenjataan yang sangat sederhana, namun karena dilandasi oleh jiwa dan semangat perjuangan, maka bangsa Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah yang sangat luas dan berbatasan langsung dengan negara Malaysia, Timor Leste dan Papua New Guinea. Namun sampai dengan saat ini, daerah perbatasan darat Indonesia masih identik sebagai daerah yang terisolir, terpencil dan terbelakang, sehingga sering menimbulkan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan yang merugikan negara serta berdampak pada kelangsungan pembangunan di daerah perbatasan. Upaya bela negara bukan saja menjadi tugas dan tanggung jawab tentara (TNI) saja, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia termasuk masyarakat perbatasan. Guna menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah, negara telah menyusun sistem pertahanan dengan sistem pertahanan semesta (SISHANTA) yang diselenggarakan berdasarkan falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia guna menjamin tegaknya kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945. Pemahaman masyarakat tentang bela negara masih sangat beragam, meskipun bela negara merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam implementasi sistem pertahanan negara yang bertumpu pada kekuatan TNI dan rakyat.
Upaya meningkatkan peran bela negara masyarakat perbatasan dalam sistem pertahanan dan keamanan negara, didasarkan pada landasan pemikiran melalui Paradigma Nasional yang meliputi Pancasila, UUD NRI 1945, Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional dan Peraturan Perundang-undangan lainnya.
Pertahanan negara sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara yang diselenggarakan guna mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa dan negara dari segala bentuk tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Konsep pertahanan negara ini dibuat karena adanya kepentingan nasional Indonesia, yaitu tetap tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta terjaminnya kelancaran dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Kondisi daerah perbatasan saat ini masih jauh tertingggal dari segala aspek kehidupan dibandingkan daerah-daerah lainnya. Hasil survei diperoleh data dan fakta yang menggambarkan kondisi nyata bela negara masyarakat perbatasan dan pengaruh perkembangan Lingstra baik global, regional, maupun nasional untuk dijadikan bahan analisa dan solusi peningkatan bela negara masyarakat perbatasan.

B.      Fakta Beberapa Masalah di Daerah Perbatasan
Beberapa permasalahan di daerah perbatasan darat Indonesia dengan negara-negara tetangga yang belum terselesaikan, antara lain :
a. Perbatasan darat Indonesia-Malaysia
1) Kondisi geografi. Di daerah perbatasan ini masih terdapat 10 Outstanding Boundary Problems (OBP) dan adanya jalan-jalan tikus yang digunakan keluar masuk masyarakat Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat ke Malaysia, hal ini dapat menyebabkan kawasan perbatasan menjadi rawan dari kegiatan ilegal.
2) Kondisi keamanan. Daerah perbatasan berpotensi sebagai tempat terjadinya kejahatan transnasional yang terorganisir, baik yang bernuansa ekonomi maupun keamanan, seperti penyelundupan barang, illegal logging, illegal mining dan human trafficking serta pelanggaran perbatasan, perusakan patok batas negara, pelintas batas secara illegal di daerah perbatasan masih cukup tinggi.
3) Kondisi perekonomian. Masyarakat Long Bawan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, kehidupannya sangat bergantung pada negara tetangga Malaysia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat Long Bawan mendatangkan dari Serawak Malaysia, karena lokasinya lebih dekat, mudah terjangkau dan harga relatif lebih murah bila dibandingkan mendatangkan dari Indonesia.
b. Perbatasan darat Indonesia dengan negara Timor Leste.
1) Kondisi geografi. Perbatasan IndonesiaTimor Leste sepanjang 280 km, di Kabupaten Belu 149,9 Km dari Motaain sampai ke Mota Masin dan wilayah enclave Ambenu sepanjang 130,1 Km.8
2) Kondisi keamanan. Di sepanjang perbatasan tersebut masih terdapat beberapa permasalahan serius, seperti: 3 (tiga) segment perbatasan masih belum disepakati yaitu di Dilomil, Bijael Sunan dan Noel Besi, permasalahan ini akibat dari masih terdapatnya perbedaan pendekatan dari kedua negara dalam penentuan batas. 9
3) Kondisi infrastruktur. Infrastruktur penunjang perdagangan masih sangat terbatas, perjanjian perdagangan lintas batas antara pemerintah Indonesia dan RDTL belum dapat diimplementasikan karena pihak Timor Leste belum menerbitkan kartu Pass Lintas Batas bagi penduduknya dan belum memadainya sarana dan prasarana penunjang perdagangan seperti pasar dan transportasi serta masih kurangnya jumlah dan rendahnya kualitas SDM sebagai penggerak di bidang ekonomi.

C.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pengaruh perkembangan lingkungan nasional dapat ditinjau dari aspek pertahanan dan keamanan, yakni :
a) Perkembangan lingkungan strategis bidang pertahanan dan keamanan dipengaruhi oleh faktor internal dalam negeri dan faktor eksternal. Rencana pembelian bebarapa Alutsista (pesawat tempur, kapal selam, tank Leopard) di tahun 2012 adalah bagian dari keseriusan pemerintah dalam menyikapi ketertinggalan.
b) Beberapa kecenderungan masalah pertahanan keamanan yang akan dihadapi Indonesia, dimasa mendatang, diantaranya:
(1) Pada tahun 2012 tindakan kejahatan, seperti illegal logging, human and drugs trafficking masih terjadi yang disebabkan oleh lemahnya pengamanan wilayah negara, terutama di daerah perbatasan darat Indonesia.13
(2) Resistensi separatis Papua, Maluku secara politik masih memperlihatkan aktifitasnya dan terus berusaha mengangkat isu-isu lokal untuk dijadikan konsumsi internasional.
(3) Belum selesainya sebagian besar permasalahan perbatasan Indonesia dengan negara tetangga berpotensi terjadinya pelanggaran wilayah dan menimbulkan konflik antar negara.
(4) Luasnya daerah perbatasan darat Indonesia belum diimbangi dengan kekuatan pengamanan dan pengawasan yang memadai, berpotensi terjadinya berbagai gangguan keamanan di daerah perbatasan.
(5) Aksi terorisme masih terjadi akibat belum terbongkarnya secara tuntas jaringan teroris internasional di Indonesia, sehingga terorisme masih tetap menjadi ancaman aktual.
c) Gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat pada tahun 2012 mengalami peningkatan akibat kompleksitas berbagai masalah, seperti tingginya angka pengangguran, kesenjangan sosial, ketidakadilan dan provokasi yang mengeksploitasi perbedaan etnis, agama, golongan serta pelaksanaan pemilihan kepala daerah (PILKADA) yang tidak disertai kepatuhan dan kedewasaan serta kematangan elit politik menimbulkan berbagai kerusuhan sosial dan konflik horizontal.

D.     Upaya Mempertahankan Keutuhan NKRI
Daerah perbatasan menjadi sangat rawan terjadinya konflik kepentingan, mulai dari perorangan sampai dengan kepentingan negara. Guna mengantisipasi kerawanan tersebut, negara Indonesia telah menyiapkan sistem pertahanan nasional yang melibatkan seluruh warga negara dalam upaya pembelaan negara sebagai bentuk rasa kecintaan dan kehormatannya kepada negara.
Aspek Pertahanan dan Keamanan. Adanya kelompok masyarakat yang ingin memisahkan diri dari NKRI seperti kelompok OPM di Papua, menambah permasalahan di daerah perbatasan. Oleh karenanya, daerah perbatasan menuntut adanya peran serta masyarakat setempat untuk berpartisipasi aktif melakukan pengawasan dan penjagaan terhadap wilayahnya. Fakta di lapangan menunjukan, bahwa masyarakat perbatasan sudah memiliki pengetahuan maupun semangat kewarganegaraan yang cukup, meskipun belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya bela negara terhadap wilayahnya, namun karena kondisi penghidupan masyarakat perbatasan masih sangat terbatas, maka sering dijadikan alasan mengapa masyarakat tidak memiliki kesadaran bela negara. Lemahnya kesadaran bela negara, karena masyarakat kurang kepedulian terhadap keamanan lingkungannya, sehingga masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan hidupnya ketimbang masalah bela negara. Sikap dan perilaku yang dijiwai rasa kecintaan pada bangsa dan negara, menjadi sangat penting dalam mendukung pembangunan nasional guna menjaga keutuhan NKRI. 16. Upaya Kondisi sikap dan perilaku masyarakat perbatasan perlu ditingkatkan, agar memiliki semangat bela negara terhadap daerahnya dari kemungkinan ancaman yang akan dihadapi.
Peningkatan bela negara pada prinsipnya adalah bertujuan untuk menciptakan kondisi daerah perbatasan menjadi aman dan damai serta sejahtera. Guna meningkatkan sikap dan perilaku masyarakat perbatasan yang dijiwai kecintaan kepada tanah air, maka di perlukan upaya-upaya sebagai berikut :
 a. Peningkatan kesadaran bela negara masyarakat melalui sektor pendidikan, antara lain :
 1) Mengaktifkan kembali kegiatan kepramukaan atau kepanduan sebagai extra kurikuler disekolahsekolah mulai SD, SMP dan SMU.
2) Membentuk organisasi kepemudaan untuk menanamkan anak-anak usia sekolah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3) Menyelenggarakan peringatan harihari nasional di sekolah-sekolah untuk menanamkan kecintaan kepada bangsa dan negara.
4) Memberikan pelatihan kepada anakanak sekolah dalam penanggulangan bencana alam.
5) Mengajarkan kepada anak-anak sekolah tentang pelestarian lingkungan hidup.
b. Peningkatan nasionalisme masyarakat perbatasan sebagai warga negara, yaitu :
1) Mengajak masyarakat untuk mengibarkan bendera kebangsaan di rumah tempat tinggalnya masingmasing pada setiap hari bersejarah atau hari nasional.
2) Mengajarkan masyarakat dapat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
3) Mengajarkan masyarakat tentang Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari.
4) Mengajak masyarakat untuk menggunakan barang-barang produk dalam negeri.
5) Memberikan penyuluhan hukum, agar masyarakat memahami dan mentaati peraturan serta hukum yang berlaku di negara Indonesia.
c. Peningkatan implementasi bela negara masyarakat perbatasan, melalui :
1) Membangun Pos-pos Kamling dan menggiatkan Kamling disetiap lingkungan pemukiman penduduk.
2) Mengajarkan masyarakat untuk menjaga lingkungannya dari kerusakan alam seperti kegiatan penghijauan dan reklamasi.
3) Mengajak masyarakat mematuhi ketentuan yang berlaku apabila hendak pergi ke negara tetangga untuk melengkapi diri dengan dokumen resmi.
4) Mengajarkan masyarakat untuk wajib lapor apabila menemukan kegiatankegiatan ilegal di daerahnya.

E.       Saran
Untuk meningkatkan bela negara masyarakat perbatasan, diperlukan peningkatan pembangunan nasional di daerah perbatasan, maka disarankan adanya langkah-langkah yang lebih komprehensif dan nyata antara lain :
a. Pemerintah perlu merevisi kewenangan Badan Nasional Pembangunan Perbatasan (BNPP) yang selama ini hanya bersifat koordinasi menjadi kewenangan yang memiliki otoritas operasional di lapangan, sehingga penyelenggaraan pembangunan di daerah perbatasan dapat berjalan lebih efektif.
b. Pemerintah perlu melakukan evaluasi pada setiap tahap pelaksanaan pembangunan di daerah perbatasan, sehingga hasilnya dapat dikontrol sesuai program dan anggaran yang telah ditetapkan.
c. Pemerintah perlu memprioritaskan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan, pendidikan, dan kesehatan di daerah perbatasan serta memberlakukan insentif atau tunjangan bagi tenaga pendidik dan medis.
d. Pemerintah perlu memperbanyak pos-pos pengamanan TNI/Polri untuk mengawasi daerah perbatasan dari kemungkinan terjadinya tindak pelanggaran tapal batas negara dan kegiatan Ilegal lain yang dapat merugikan negara.